Warta Sanggar

Lestarikan Budaya, Sanggar Nampani Ajarkan Seni Menganyam Ketupat

✍️ Oleh Admin 🗓️ 27 Jun 2026
Ketupat merupakan salah satu hidangan wajib saat Hari Raya Idul Fitri. Namun tidak semua orang bisa membuat bungkus atau kulit ketupat. Salah satu sanggar di Banyuwangi, Sanggar Nampani, berupaya melestarikan pembuatan ketupat dengan melatih anak-anak teknik membuat kulit ketupat. Sanggar yang berada di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini memanfaatkan waktu senggang di bulan Ramadan untuk belajar menganyam ketupat.

"Selain belajar menari, mereka juga belajar budaya-budaya tradisional seperti menganyam ketupat," jelas Ketua Sanggar Nampani, Samian, Kamis, 27 Maret 2025.

Kulit ketupat terbuat dari janur atau daun kelapa yang masih muda. Janur dianyam sedemikian rupa hingga mendapatkan bentuk ketupat yang selama ini dikenal luas. Anak-anak tersebut dengan tekun mempelajari teknik menganyam janur hingga menjadi kulit ketupat. Untuk membuat kulit ketupat dibutuhkan keterampilan dan ketekunan. Sebab teknik anyaman ketupat ini cukup rumit.

Samian, mengaku bangga melihat semangat anak-anak dalam melestarikan salah satu tradisi peninggalan nenek moyang ini. Dengan demikian, tradisi ini tidak punah dan bisa terus menerus diturunkan pada generasi berikutnya. "Mereka sangat antusias melestarikan budaya," ungkapnya.

Bagi masyarakat Jawa, ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol filosofis. "Ketupat" atau "kupat" dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari "Ngaku Lepat," yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini tercermin dalam tradisi Lebaran. Di mana umat Muslim saling bermaaf-maafan mengakui kesalahan masing-masing dengan keluarga dan juga tetangga.
← KEMBALI KE SEMUA BERITA